-Ads Here-
Dengan adanya Akal Imitasi (AI), Muhammadiyah tidak boleh ketinggalan dalam perkembangan teknologi informasi. Kemajuan tidak boleh tercerabut dari tradisi. Pada Pengajian Umum PP Muhammadiyah di Kantor Jakarta pada tanggal 24 Januari, Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyampaikan pesan tersebut. Pesan tersebut disiarkan secara langsung di kanal YouTube Muhammadiyah Channel.
"Kecanggihan teknologi tidak boleh menjauhkan kita dari tradisi...." Dia mengatakan, "Al-Qur'an harus kita kaji dan kontekstualkan dengan ilmu yang canggih ini."
Abdul Mu'ti menyatakan bahwa kecanggihan kecerdasan buatan memiliki kemampuan untuk menjelaskan berbagai aspek kehidupan manusia. Hampir semua jenis pekerjaan ini dapat dijelaskan oleh kecerdasan buatan bahkan dalam kehidupan manusia ini. AI dapat menjelaskan kanker dengan cepat. Dia juga menyatakan bahwa AI tidak akan dapat melakukan penelitian tentang pengobatan kanker semacam itu.
Selain itu, ia menunjukkan bahwa AI memiliki keterbatasan dalam hal sosial dan keagamaan, yang memerlukan empati. Mu'ti menjelaskan bahwa AI memiliki kecerdasan (kepala) tetapi tidak memiliki hati.
Pengetahuan kognitif dan metakognitif berhubungan dengan kepala. Kemudian tangan dikaitkan dengan keterampilan. Dia membedakan kemampuan konvensional dari kemampuan dinamis; setelah itu, hati. “EAI hanyalah kepala,” kata Mu'ti. Jadi, dalam konteks pendidikan abad ke-21, Abdul Mu'ti membahas pentingnya menjaga keseimbangan antara kepala, tangan, dan hati. Ketiganya membutuhkan keseimbangan karena khawatir akan kecanduan daripada membantu manusia.
Dalam paparannya, Abdul Mu'ti juga membahas tragedi seorang remaja Amerika yang terlalu bergantung pada AI. Ia mengatakan bahwa ChatGPT membuat seorang remaja berusia lima belas tahun putus asa karena cintanya tidak terbalas. "Dia jatuh cinta pada ChatGPT itu, tapi ChatGPT mengatakan saya tidak bisa membalas cintamu, putus asa dia, kemudian dia bunuh diri."
Dia percaya bahwa peristiwa tersebut adalah peringatan penting tentang kemajuan teknologi. Oleh karena itu, penguasaan teknologi sangat penting, tetapi jangan sampai teknologi justru menguasai manusia.
-Ads Here-