-Ads Here-

sedikit kecerdasan buatan (AI). ChatGPT sekarang memungkinkan orang untuk bertanya atau berbicara dengan orang lain. Sebuah laporan Future Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF) memperkirakan bahwa pada tahun 2025 akan ada 170 juta lapangan kerja baru dan 92 juta lapangan kerja akan hilang dalam lima tahun ke depan. Sektor pekerjaan yang diantisipasi termasuk kasir, petugas tiket, dan staf administrasi. AI dan otomatisasi menyebabkan perubahan ini.
Apa yang tidak bisa dilakukan AI?
AI tidak memiliki kemampuan untuk melakukan tiga hal. Tiga hal yang tidak dapat dilakukan oleh AI Ada apa? Saat berbicara dengan wartawan beberapa waktu lalu di Jakarta, Prof. Satoshi Hirose, Dekan Sekolah Magister Manajemen Universitas Globis dari Jepang, mengatakan, "Pertama, membuat keputusan."
Keputusan harus dibuat pertama. Kedua, menetapkan prinsip-prinsip seperti kelestarian dan hubungannya dengan alam. Ketiga, adalah perasaan misi, atau "kokorozashi" (dalam bahasa Jepang, tujuan hidup).
Kokorozashi adalah konsep Jepang tentang misi pribadi atau tujuan hidup ambisius yang menyatukan gairah, keahlian, dan visi jangka panjang untuk menghasilkan perubahan positif di masyarakat. AI tidak dapat melakukan tiga hal ini. Selain itu, sangat jelas. Hirose kemudian menambahkan, "Kita harus memperkuatnya."
Banyak anak muda saat ini masuk ke perusahaan untuk pekerjaan administratif. Anak-anak muda ini harus diajarkan bagaimana membuat keputusan, memilih nilai-nilai diri mereka, dan menetapkan tujuan dan tujuan hidup mereka. Orang muda saat ini menghadapi tantangan. Mereka biasanya datang ke perusahaan dan melakukan tugas administrasi. Dan secara bertahap belajar membuat keputusan. Hirose menjelaskan filosofi kampus yang masih ada.
Carl Benedikt Frey, seorang ekonom dari Universitas Oxford, memberikan pendapat tambahan. Menurut Frey, manusia memiliki keunggulan kompetitif dalam tiga keterampilan inti, menurut Fortune. Interaksi sosial yang kompleks, kreatif, dan tahan terhadap situasi yang kompleks adalah ketiga keterampilan inti.
Komunikasi Sosial
Frei menjelaskan bahwa AI tidak mampu mengadakan pertemuan seperti pembagian panjang. Untuk saat ini, model AI tidak dapat meniru kecerdasan emosional dan komunikasi, sehingga nilainya tetap ada di tempat kerja. Keterampilan komunikasi akan menjadi lebih penting di masa depan, menurut penelitian dari Universitas Stanford. Namun, keahlian seperti akuntansi dan analisis data akan kehilangan nilainya di masa depan.
Kreatif
Kreativitas manusia melampaui menghafal dan mengulang pengetahuan dalam berbagai bentuk, kata Frey. Kemampuan untuk berpikir dengan cara yang berbeda dan mendobrak batasan sangat penting. Jika Anda bertanya kepada LLM (Large Language Model/model bahasa besar semacam ChatGPT-red) pada tahun 1900, "Apakah manusia akan pernah bisa terbang?" Jika ChatGPT sudah ada pada masa itu, Frey menganalogikan, "Mereka akan menyimpulkan bahwa tidak ada burung yang beratnya lebih dari 30 pon yang mampu lepas landas."
Itulah mengapa para pekerja harus kreatif. Menurut Laporan Future Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF), di tengah perkembangan AI, pemikiran kreatif semakin penting. Menurut Frey, aktivitas penting untuk meningkatkan pemikiran kreatif adalah diskusi dan debat aktif, yang merupakan dasar pendidikan perguruan tinggi.
Ketahanan dan Resiliensi
Menurut Frey, kecerdasan buatan tidak memiliki kekuatan yang diperlukan untuk berfungsi seperti manusia. AI dapat menyediakan berbagai informasi dengan satu klik, mulai dari sejumlah kasus hukum yang rumit hingga rencana perjalanan yang dioptimalkan. Namun, AI tidak cocok dengan lingkungan dunia nyata yang selalu berubah. Dalam beberapa dekade terakhir, buku teks sarjana tidak banyak berubah. Frey menyatakan bahwa AI berkembang sebagai tutor dalam lingkungan yang relatif statis.
Ini menunjukkan bahwa seiring dengan kemajuan AI, fleksibilitas akan menjadi lebih penting. Resiliensi menjadi keterampilan yang semakin penting, menurut Laporan Future Jobs 2025 dari World Economic Forum (WEF).
Selain itu, para pemimpin bisnis menggarisbawahi betapa pentingnya hal ini di era AI, mengatakan bahwa resiliensi adalah sifat yang diperlukan untuk menghadapi banyak perubahan yang dihadapi perusahaan selama adopsi AI.
-Ads Here-