-Ads Here-

Peraih Fields Medal 2014, penghargaan terhormat di bidang matematika, Martin Hairer menolak kekhawatiran bahwa peran matematikawan akan digantikan oleh AI. Hairer menyatakan bahwa matematika masih "aman" dari ancaman kecerdasan buatan. Hairer menjawab kegelisahan seorang siswa sekolah menengah atas yang mengirim e-mail kepadanya dengan mengatakan hal ini. Dengan kecanggihan AI setiap hari, siswa tersebut khawatir masa depannya di bidang matematika akan sirna. Setelah perdebatan sengit, Hairer menenangkan siswa tersebut. Ia mengakui bahwa model bahasa besar (LLM), seperti ChatGPT, sangat baik dalam menyelesaikan soal latihan umum yang sudah ada jawabannya di internet. Namun, ia menyatakan bahwa ia belum pernah melihat situasi di mana kecerdasan buatan dapat menghasilkan gagasan matematika yang benar-benar unik.
Hairer menyatakan, "Saya belum melihat contoh yang masuk akal di mana LLM menghasilkan ide atau konsep baru yang benar-benar unik." Hairer dan tim matematikawan terkemuka dari Harvard, Stanford, dan MathSci.ai merilis eksperimen yang disebut "First Proof" untuk membuktikan klaim tersebut. Dengan menggunakan soal penelitian yang belum pernah dipublikasikan, eksperimen ini menguji model AI tercanggih saat ini, seperti ChatGPT-5.2 Pro dan Google Gemini 3.0 Deep Think.
Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa AI tidak dapat "menyontek" jawaban yang dihasilkan dari data latihannya di internet. Hasilnya tidak memuaskan. Hairer bahkan menyebut jawaban AI sebagai "siswa S1 yang kurang pintar". " Pada bagian yang mudah, model AI cenderung memberikan banyak detail bertele-tele. Namun, Hairer menyatakan bahwa detail sangat kecil pada dasar perselisihan yang sulit. Ia juga menyatakan bahwa AI tampaknya tahu di mana titik awal dan tujuan akhirnya, tetapi tidak tahu bagaimana mencapainya. Akibatnya, untuk membuat pembaca tidak menyadarinya, AI seringkali hanya "mengarang" atau menggerakkan tangan di tengah-tengah pembuktian.
Kekurangan AI: Tim peneliti menemukan beberapa alasan mengapa AI masih belum dapat menggantikan profesor matematika: AI lemah dalam penalaran visual, atau penalaran visual, sehingga tidak dapat menangani masalah yang memerlukan imajinasi ruang. Ingatlah bahwa jika jawaban AI membutuhkan bukti lebih dari lima halaman, kualitasnya langsung turun dan mulai ngawur. Salah satu penulis makalah Tamara Kolda menyebut AI membosankan karena tidak dapat diperdebatkan. Meskipun kemajuan sains memerlukan diskusi, AI hanya mengikuti perspektif pengguna.
"Loop Infinite" tersembunyi Dalam penelitian ini, Lauren Williams, profesor matematika dari Harvard, menemukan fenomena tambahan yang tidak biasa. Saat dihadapkan pada masalah riset sungguhan, kecerdasan buatan seringkali terjebak dalam lingkaran setan (lingkaran tanpa akhir). Setiap kali AI memberikan jawaban, dia akan mengoreksi dirinya sendiri (misalnya, "Tunggu, ada yang salah!"), memberikan jawaban baru, mengoreksi lagi, dan begitu seterusnya sampai dia menemukan solusi akhir.
Selain itu, Tamara Kolda, salah satu penulis penelitian MathSci.ai, mengingatkan tentang ancaman lebih mendasar. Dia mengklaim bahwa kemajuan sains di masa depan mungkin dihambat oleh kecerdasan buatan. Sebagaimana dikutip KompasTekno dari The New York Times pada Selasa (10/2/2026), alasan di balik perbedaan AI dengan rekan kerja manusia adalah bahwa AI hanya akan mengulang sudut pandang yang diberikan kepadanya.
-Ads Here-