-Ads Here-

Pada bulan Februari tahun 2025, sebuah pernyataan yang diucapkan oleh Bill Gates dalam sebuah parodi yang dibintangi oleh Jimmy Fallon mengguncang dunia pendidikan. Ia memperkirakan bahwa AI akan secara bertahap menggantikan peran guru dalam pembelajaran dalam sepuluh tahun ke depan. Ini adalah peringatan keras tentang kerusakan dasar pendidikan global yang sudah lama ada. Gates dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang di depan kelas sekarang berhadapan dengan mesin yang tidak pernah lelah, tidak pernah kehilangan kesabaran, dan sangat menyesuaikan diri dengan setiap orang.
Setelah bertahan selama ratusan tahun, otoritas guru sekarang memasuki fase penting. Kita sekarang berada di ambang sejarah: apakah guru akan berkembang dan terus mengendalikan peradaban pengetahuan, atau apakah mereka akan menjadi artefak masa lalu di tengah keganasan efisiensi algoritma? Otoritas Luruh Selama berabad-abad, institusi pendidikan berdiri di atas otoritas tunggal. Guru adalah sumber pengetahuan, dan siswa adalah sungai yang menanti air mengalir ke dalamnya. Tapi fondasi ini mulai rusak. Dalam The Death of Expertise (2017), Tom Nichols mengingatkan bahwa akses informasi yang demokratis di internet telah memutus jarak antara orang awam dan ahli. Ini terjadi jauh sebelum kemunculan AI.
AI kini melangkah lebih jauh dengan menghapus peran guru sebagai satu-satunya pendidik. AI tidak lagi berfungsi sebagai mesin pencari; sebaliknya, ia telah berkembang menjadi rekan pembelajaran yang mampu melakukan personalisasi pembelajaran (adaptive learning) dengan ketepatan yang hampir tidak mungkin dicapai oleh manusia.
Di seluruh dunia, platform seperti Khan Academy, yang didirikan oleh Sal Khan, seorang lulusan MIT dan Harvard Business School, telah mengintegrasikan Khanmigo, seorang tutor kecerdasan buatan yang dapat membantu siswanya 24 jam sehari tanpa kehilangan emosi atau jenuh. Posisi guru sebagai otoritas intelektual juga mengalami desakralisasi saat teknologi dapat menjelaskan teori fisika kuantum atau runtutan sejarah dunia dengan cara yang disesuaikan secara individual untuk setiap siswa. Jika hanya bergantung pada pengucapan teks materi, guru tidak lagi menjadi "panggung utama", melainkan sebatas pemain figuran.
Ketakutan kepunahan ini diperparah oleh perbedaan yang besar antara kemajuan teknologi dan kesiapan guru. Data Forbes (Maret 2025) menunjukkan paradoks yang cukup lucu di seluruh dunia. Lebih dari 80% pendidik percaya bahwa AI meringankan tugas administrasi. Namun, 76% guru mengatakan bahwa AI gagap dan mereka tidak memiliki kemampuan untuk menggunakannya secara pedagogis di kelas. Di Indonesia, masalah ini lebih rumit. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BRIN pada oktober 2025 menunjukkan bahwa 922 pendidik memiliki pemahaman yang cukup baik tentang menggunakan AI untuk mendukung pembelajaran. Namun, guru masih tidak dapat mengubah dan menyesuaikan konten yang dibuat oleh AI.
Studi ini menemukan bahwa guru tidak memiliki banyak kemampuan untuk mengubah dan menyesuaikan konten yang dibuat oleh AI agar sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan khusus siswa mereka di kelas mereka. AI biasanya dianggap sebagai "pemberi jawaban", tetapi belum sepenuhnya menjadi alat untuk mendesain pembelajaran kontekstual dan personal. Fenomena ini seolah-olah mengonfirmasi penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature (2024) yang menyatakan bahwa kesadaran etika dan literasi AI adalah komponen utama yang menentukan seberapa efektif pendidikan di masa depan. Tanpa kedua komponen ini, pendidik kita berisiko terjebak dalam masalah teknologi. Mereka menggunakan AI untuk mempercepat administrasi atau pembuatan soal, tetapi mereka tidak memiliki kedalaman dalam proses dialektika dengan siswa.
Guru akan segera diganti oleh mesin jika mereka hanya menjadi operator perangkat lunak tanpa pemahaman etis dan pedagogis yang mendalam.
Mentor Kehidupan:
Pada akhirnya, cerita tentang kepunahan guru adalah konsekuensi logis dari pemahaman kita tentang pendidikan hanya sebagai proses penyebaran informasi. AI pasti menang jika tugas guru hanya mentransfer pengetahuan dari buku ke kepala murid. AI lebih cepat, lebih pintar, dan memiliki basis data yang luas. Sementara itu, sentuhan kemanusiaan—juga dikenal sebagai sentuhan manusia—tidak dapat ditembus oleh silikon dan sirkuit kecerdasan buatan. Pendidikan bukan hanya belajar rumus; itu juga membangun karakter, empati, dan kebijaksanaan. sebuah situasi yang muncul dari interaksi antara orang.
Jika guru menjadi "mesin" yang kaku dan hanya masuk ke kelas, membuka buku, meminta siswa mengerjakan soal, dan selesai saat jam pelajaran berbunyi, mereka akan punah. Namun, mereka tidak akan hilang selamanya kecuali mereka dapat berubah menjadi mentor kehidupan dan membantu siswa menemukan jalan etika di tengah banjir data. Di era kecerdasan buatan, guru diuji secara manusiawi daripada bersaing dengan mesin.
-Ads Here-