-Ads Here-

Google, perusahaan teknologi Amerika Serikat, mempersiapkan diri untuk menghadapi tekanan yang signifikan dari aparat penegak hukum India. Sehubungan dengan penemuan jaringan kriminal siber yang menggunakan lebih dari 500.000 akun Gmail palsu untuk menyebarkan teror ancaman bom, polisi lokal berencana melakukan panggilan pemeriksaan terhadap Google. Data menunjukkan bahwa India adalah salah satu pasar terbesar Google di seluruh dunia. Namun, posisi perusahaan milik induk Alphabet Inc. ini menjadi perhatian utama setelah penegak hukum lokal menemukan masalah keamanan yang sering digunakan penjahat, mulai dari eksploitasi platform Firebase untuk penipuan finansial hingga kasus pembuatan akun massal ilegal ini.
Jaringan Teror Dengan Identitas Akun Palsu
Kasus ini muncul setelah penegakan hukum di Gujarat, negara bagian India barat, membongkar jaringan pembuat email anonim yang mengirimkan ancaman bom lintas negara bagian. Ketika polisi melakukan penggerebekan, mereka menangkap dua orang yang diduga bersalah dan menemukan jumlah fantastis 513.847 ID dan kata sandi Gmail yang telah berfungsi sejak 2022.
Reuters adalah media pertama yang mengumumkan bahwa Google sekarang resmi terlibat dalam investigasi aparat. Menurut Vivek Bheda, pejabat senior kejahatan siber di Kepolisian Gujarat, "Kami akan menyurati Google dan meminta mereka melakukan perubahan kebijakan agar celah pengamanan ini tidak bisa lagi dilewati begitu saja," dikutip Reuters, Rabu (16/9/2026). Ia juga menyatakan bahwa dalam waktu dekat, kepolisian berencana memulai investigasi formal terhadap Google.
Google belum memberikan tanggapan resmi hingga saat ini. Tidak ada yang jelas tentang apakah perusahaan teknologi tersebut akan dihukum atau didenda.
Sehubungan dengan KTT BRICS
Gelombang kejahatan siber yang terjadi di India sendiri bukan masalah kecil. Penipuan finansial di seluruh negara telah menyebabkan kerugian tahunan lebih dari US$2 miliar (Rp35 triliun). Akibatnya, aparat penegak hukum melakukan tindakan yang lebih keras terhadap platform teknologi yang dianggap tidak berfungsi dengan baik dan dianggap memungkinkan tindakan kriminal dilakukan.
Pada 10 September lalu, beberapa hari sebelum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) kelompok BRICS di New Delhi, email yang mengandung ancaman bom dikirim ke kantor pemerintahan, yang menandai awal investigasi di Gujarat. Ancaman tersebut tidak hanya menyasar India, tetapi juga banyak negara yang berkolaborasi dengannya selama KTT. Polisi menemukan fakta yang mengejutkan meskipun seluruh ancaman tersebut dipastikan tidak benar. Salah satu pelaku yang ditangkap tertangkap basah sedang bertransaksi dengan pembeli Bangladesh. Pembeli mendapatkan kelompok akun Gmail palsu dan membayar sebagian dari transaksinya dengan mata uang kripto.
Selain itu, fakta bahwa akun palsu tersebut dilengkapi dengan fitur pengamanan ketat seperti autentikasi dua faktor—sebuah fitur privasi standar yang sebenarnya disediakan Google untuk melindungi keamanan pengguna—membuat polisi kaget. Sekarang, fokus utama penyelidikan lanjutan adalah bagaimana sindikat kriminal membobol dan mengoperasikan fitur keamanan tersebut dalam skala besar.
-Ads Here-